Cikal Bakal Nganjuk (Candi Lor)

 

Cikal Bakal Nganjuk

(ditulis sejak ‎04 ‎September ‎2015, diuploud 03 Oktober 2021)

Di desa Candirejo kecamatan Loceret ±4 km ke selatan Nganjuk terdapat sebuah candi yaitu Candi Lor. Candi ini diberi nama Candi Lor karena terletak di sebelah selatan. Sebetulnya candi ini bernama bangunan suci Jayamerta.

Candi Lor disusun dengan bahan dasar batu andesit (batu bata merah). Oleh karena itu, Candi ini sering disebut Candi Bata. Selain disusun dengan Batu bata merah, candi ini juga disusun dengan pecahan Yoni dan Ambang Putih.

Luas lokasi candi Lor adalah 42 x 39,4 atau 1654,8 . Sedangkan,luas alas candi ini adalah 12,4 x 11,5 atau 142,6  dan tinggi candi Lor adalah ± 9,3 m.

Keadaan candi ini sekarang sudah tidak berbentuk lagi. Hal itu mungkin disebabkan usia candi Lor yang sudah sangat tua. Namun warga Nganjuk masih tetap berusaha menjaga candi ini. Menurut infomasi yang saya dapat, Candi Lor selalu dibersihkan dengan sapu.

Menurut buku sejarah Nganjuk candi ini sebetulnya bertingkat dan bersifat Siwais. Meskipun keadaannya sudah tidak berbentuk lagi, tapi diperkirakan bahwa candi ini dulunya mempunyai ruang dalam yang berbentuk segi empat. Ini dapat dibuktikan dengan melihat adanya sudut siku – siku yang masih yang tampak di sudut timur laut ruang dalam candi.

Banyak pohon tumbuh di sini. Salah satunya adalah sebuah pohon Kepuh. Pohon itu tumbuh tepat di atas bangunan. Akar pohon kepuh ini mencengkram dan menghunjam ke segala arah badan candi sebelah selatan.

Menurut Hoepermans pohon ini sudah tumbuh sejak 1866. Sehingga umur pohon ini ± 500 tahun. Menurut penelitian pada tanggal 12 November 2001  pohon ini tumbuh condong sekitar 30 meter dengan kemiringan sekitar 60 derajat dan diameternya diperkirakan mencapai empat meter.

Sekarang ini Candi Lor dimanfaatkan untuk tempat pariwisata  Ini sangat cocok karena di Candi Lor sangat sejuk dan asri. Rata – rata pengunjung di Candi Lor adalah 10 atau 20 orang. Keadaan Candi Lor yang sejuk dan asri mungkin disebabkan oleh tempatnya yang dekat sawah. Namun sangat disayangkan perbatasan Candi Lor dengan sawah hanya dibatasi oleh kayu dan kawat berduri.

Saat kita berkunjung di sini kita harus lapor ke guru kunci dan akan menulis data diri kita. Selain itu, saat berkunjung di sini terdapat beberapa larangan yaitu :

1.      Dilarang merubah /merusak fungsi dan bentum cagar budaya

2.      Mencuri / memperjual – belikan cagar budaya

3.      Memindahkan, membawa, memisahkan, memugar cagar budaya tanpa seijin instansi terkait

4.      Mencoret – coret cagar budaya dilokasi terkait

5.      Mengotori / membuat keonaran di situs cagar budaya

Apabila pengunjung melanggar larangan tersebut akan dikenakan sanksi sesuai pasal 101 s/d 112 UU no. 11 tahun 2010 tentang cagar budaya dengan pidana penjara sekurang – kurangnya 1 tahun dan setinggi – tingginya 15 tahun atau denda sekurang – kurangnya Rp. 500. 000. 000. – (lima ratus juta rupiah) dan setingi – tingginya Rp. 2. 500. 000. 000. – (dua milyar lima ratus juta rupiah). Peratuaran ini ditetapkan BPCB Jawa Timur.

Laporan pertama ditemukannya reruntuhan Candi Lor oleh masyarakat setempat disebut dengan nama Candi Bata. Hal ini dilakukan saat masa pemerintahan Letnan Gubernur Tomas Stanford Raffles yang berkuasa pada tahun 1811 – 1816 M. Menurut Letnan Gubernur Tomas Stanford Raffles bangunan suci ini seperti Candi Jabun di probolinggo. Itu dapat dilihat dari bentuknya.  

Saat itu pula ditemukan Prasasti Anjuk Ladang. Prasasti Anjuk Ladang adalah Piagam Batu (Linggo Pala). Nama prasasti Anjuk Ladang ini deberikan karena dalam prasasti ini disebut toponimi Anjuk Ladang yang dianggap sebagai asal - usul nama Nganjuk.

Untuk menyelamatkan peninggalan bersejarah ini, prasasti Anjuk Ladang kemudian dipindahkan ke halaman kediaman Residen Kediri. Namun, karena dianggap sangat penting akhirnya prasasti ini dipindahkan ke Musium Pusat Jakarta, sebagai koleksi benda purbakala dan diberi kode D.59. 

Tulisan dalam prasasti ini sudah aus, namun menurut bacaan Brandes prasasti ini mempunyai 9 kutipan yang sangat penting.   

Menurut kutipan dari prasasti Anjuk Ladang Candi Lor adalah cikal bakal kota Nganjuk. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Mataram Kuno yaitu Mpu Sendok yang bergelar Sri Maharaja Sri Isyana Wikrama Dharmattunggadewa untuk menetapkan Watek Anjuk Ladang (Nganjuk) sebagai desa swantantra..

Dahulu Mataram Kuno terletak di daerah Jawa Tengah, tetapi karena suatu persolan menyebabkan Mpu Sendok berfikir untuk pindah. Persoalan itu adalah raja Mataram yang lebih mementingkan Jawa Timur dibanding dengan Jawa Tengah, dan ancaman bencana gunung meletus. Akhirnya Mpu Sendok memutuskan untuk pindah ke Jawa Timur. Di Jawa Timur, Mpu Sendok mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Medang Kamulan. Medang Kamulan berasal dari kata Medang yang artinya Mataram dan Kamulan yang artinya awal. Jadi Medang Kamulan artinya adalah Mataram awalan. Candi ini adalah peninggalan dinasti Isyana.

 

 

Kemudian Mpu sendok menyuruh anak buahnya yaitu Rakai Hinu Sahasra, Rakai Baliswara serta Rakai Kanuruhan untuk membangun sebuah monumen dan pundi - pundi berundak. Itu tepat pada 937 M atau 859 Caka. Monumen ini yang disebut Candi Lor. Monumen dan pundi – pundi berundak itu bernama Srijayamerta. Monumen ini didirikan untuk menetapkan kawasan Anjuk Ladang  atau yang sekarang dikenal sebagai Nganjuk. Selain itu, candi ini merupakan lambang perjuangan Mpu sendok melawan pasukan dari Melayu dari Jambi. Pasukan ini patuh kepada Sriwijaya. Akhirnya perang ini dimenangkan oleh pasukan laskar jawa yang dipimpin Mpu Sendok.

Mpu Sendok adalah orang yang berjasa Mpu sendok sangatlah  berjasa bagi penduduk Anjuk Ladang.  Salah satu jasanya adalah  membebaskan rakyat dari pemaksaan membayar pajak. Ini terjadi setelah dikeluarkannya prasasti Anjuk Ladang. Sejak saat itu pemungut pajak yaitu para penjabat yang jumlahnya 63 orang tidak diperkenankan memasuki desa yang telah dijadikan desa suci atau desa otonom. Hal ini disebut Sima Swantantara.

Atas jasanya itu ia tidak meminta imbalan kepada rakyat. Beliau hanya  berpesan  kepada  penduduk  Anjuk  Ladang  untuk  menjaga  Srijayamerta atau candi Lor,  yang  merupakan  tugu  kemenagan  Mpu  Sendok  dari pasukan  Melayu.  Hari  itu  tepat  pada  tanggal  10  April,  yang  dijadikan  hari  jadi  Nganjuk.

(Gambar Makam Eyang Kerto dan Eyang Kerti)

Di sebelah barat sekitar candi ada 2 makam abdi dalem kinasih.  Makam itu adalah makam Eyang Kerto dan Eyang Kerti. Eyang  Kerto dan Eyang Kerti adalah sepasang suami istri yang menjadi abdi kinasih Mpu Sendok. Mereka bertugas untuk menjaga dan merawat  candi Lor. Makam mereka terbuat dari tumpukan batu - batu yang tersusun rapi. Makam ini hingga sekarang masih tetap dijaga dan  dirawat oleh penduduk Nganjuk.

 

Selain terdapat makam, sebuah tugu. Tugu ini digunakan untuk mengibarkan bendera. Tugu ini sudah ada sejak zaman dahulu. Naman saat saya kesana bemderanya tidak dikibarkan.

Di daerah sekitar candi pernah  ditemukan 2 arca yang sudah rupa tanpa kepala, yang diperkirakan yaitu arca Ganesha dan arca nandi. Namun sayangnya untuk menjaga kelestariannya arca ini dipindahkan ke Musium Anjuk Ladang. Selain itu, disana juga terdapat Lingga dan Yoni, yang sudah rusak. Karena terdapat Lingga, maka dapat disimpulkan candi ini adalah candi yang bersifat Siwa

Pada tahun 1913, disawah sekitar candi berhasil ditemukan 4 arca yang terbuat dari perunggu. Arca ini menggambarkan Pantheon Budhisme, yaitu

1.      Tara Musik, berukuran 7,8 cm, menggambarkan seseorang yang sedang memainkan kecapi yang terbuat dari rotan dalam ekspresi menyanyi dan menari.

2.      Bodhisattwa, berukuran 7,8 cm. Dalam Budha Mahayana, Bodhistiwa dianggap sebagai calon Buddha. Tiap – tiap Dhyani Budha mesti dikelilingi oleh 4 Bodhisattawa yang disebut Vajradathu Mandala.

3.      Dhupa Tara dan Puspa Tara, berukuran 9 cm. Arca ini digambarkan ramping dan indah. Yang satu digambarkan sama dengan Tara Musik, dan yang satunya digambarkan sebagai Dhupa Bunga.

 

Patung yang ditemukan di dekat Candi Lor ini sangat penting ditinjau dari segi artistiknya dan ikonografinya. Menurut susunan pantheonnya yang sangat khas mengungkapakan tradisi kerajaan dengan patung Budha yang menghadap keempat penjuru. Hal itu sangatlah luar biasa.

            Namun sayang sekali di sini pernah terjadi pencurian sebuah arca. Itu tejadi pada tahun 2010. Menurut juru kunci kejadian pencurian ini terjadi di malam hari, sehingga ia tidak mengetahui pencurian itu. Ia mengetahui kejadian pencurian itu saat pagi. Setelah mengetahui itu si juru kunci melaporkan kejadian itu kepada dinas pemerintahan kebudayaan Nganjuk.

                Situs Candi Lor ini terkenal sebagai tempat pertapaan tokoh yang bernama Gentiri. Selain itu, jika salah satu warga di sekitar Candi akan mengadakan acara, pasti akan dilakukan ritual – ritual penting.


Daftar Pustaka

https://nganjukkabmuseumjatim.wordpress.com/2014/08/25/abdi-kinasih-candi-lor-candi-bata

kekunan.blogspot.com/2012/08candi-lor.html

nusantaranger.com/refrensi/candi-lor/sejarah.html

http://swetadwipa.blogspot.com/2014/05/candi-lor-situs-sejarah-penting-cikal.html?m=1

http://www.eastjava.com/tourism/nganjuk/ina/lor-temple.html

 http://id.m.wikipedia.org/wiki/Istimewa:History/Candy_lor

http://sulistyani35.blogspot.com/2013/05/sejarah-candi-lor-candirejo-nganjuk.html?m=1

http://id-id.facebook.com/byonic.nganjuk/post/703957506301405

news.liputan6.com>nwes>sosial & budaya

laurentiadewi.com/17309

Drs. Harimintadji, Drs. Habib Mustopo, Drs. Santoso, Drs. Suratno, Drs. Suwarno, buku Nganjuk dan Sejarahnya

Bpk. Juru Kunci, Desa Candirejo Kecamatan Loceret


Komentar